Kamis, 20 November 2008

Touching story from India

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca Koran, "berapa lama lagi

kamu

baca koran itu? tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang

untuk makan."

Aku taruh Koran dan melihat anak perempuanku satu2nya,namanya Sindu

tampak

ketakutan,air matanya banjir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi

susu asam/yogurt (nasi khas India /curd rice). Sindu anak yang manis dan

termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka

makan

curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau

makan

curd rice ada "cooling effect". Aku mengambil mangkok dan berkata,

"Sindu

sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini?

Kalau

tidak ,nanti ibumu akan teriak2 sama ayah."

Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku. Tangis Sindu

mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata, "boleh

ayah.

Akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya

akan saya habiskan, tapi saya akan minta..." agak ragu2 sejenak. ".akan

minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau

berjanji

memenuhi permintaan saya?"

Aku menjawab, "Oh pasti sayang".

Sindu tanya sekali lagi, "betul nih ayah?"

"Yah pasti.." sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan

lembut sebagai tanda setuju.

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama,istriku menepuk

tangan

Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, "janji" kata istriku.

Aku

sedikit khawatir dan berkata: "Sindu jangan minta komputer atau barang2

lain

yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang." Sindu

menjawab, "jangan khawatir ,Sindu tidak minta barang2 mahal kok."

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita

,dia

bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah

sama

istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak

disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya,dia mendekatiku

dengan

mata penuh harap. Dan semua perhatian (aku ,istriku dan juga ibuku)

tertuju

kepadanya. Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin/dibotakin pada hari

Minggu. Istriku spontan berkata, "permintaan gila, anak perempuan

dibotakin,tidak mungkin!" Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam

keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah

merusak kebudayaan kita. Aku coba membujuk: "Sindu kenapa kamu tidak

minta

hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak." Tapi Sindu tetap

dengan pilihannya, "tidak ada 'yah, tak ada keinginan lain," kata Sindu.

Aku coba memohon kepada Sindu, "tolonglah kenapa kamu tidak mencoba

untuk

mengerti perasaan kami."

Sindu dengan menangis berkata, "ayah sudah melihat bagaimana

menderitanya

saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk

memenuhi

permintaan saya kenapa ayah sekarang mau menarik/menjilat ludah sendiri?

Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus

memenuhi

janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja

Harishchandra

(raja India jaman dahulu kala )untuk memenuhi janjinya rela memberikan

tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri."

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, "janji kita

harus

ditepati." Secara serentak istri dan ibuku berkata, "apakah aku

sudah gila?"

"Tidak," jawabku, "kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan

pernah

belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri."

"Sindu permintaanmu akan kami penuhi."

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan

bagus.

Hari Senin ,aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak

berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum

aku

membalas lambaian tangannya. Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil

sambil berteriak, "Sindu tolong tunggu saya." Yang mengejutkanku

ternyata

kepala anak laki2 itu botak. Aku berpikir mungkin "botak" model jaman

sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan

berkata,

"anak anda ,Sindu, benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia

sekarang, Harish adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia."

Wanita

itu berhenti sejenak ,nangis tersedu-sedu, "bulan lalu Harish tidak

masuk

sekolah,karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia

tidak mau pergi kesekolah takut diejek/dihina oleh teman2 sekelasnya.

Nah,

Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk

mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka

kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish.

Tuan

dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang

berhati

mulia."

Aku berdiri terpaku dan aku menangis. Malaikat kecilku tolong ajarkanku

tentang kasih.

Love VS Like

Pacaran itu suatu hal yang
mengesankan
dan
harus dipertahankan jika memang udah
sepadan.

Seperti kata kata berikut,

CiNTA tak pernah akan begitu indah,
jika tanpa
persahabatan.....
yang satu selalu menjadi penyebab yang
lain dan
prosesnya...adalah iRREVERSIBLE......

Seorang pecinta yang terbaik adalah
sahabat yang
terhebat.
Jika kamu mencintai seseorang,
jangan berharap bahwa seseorang itu
akan
mencintai kamu persis sebaliknya dalam
kapasitas yang sama.

Satu diantara kalian akan memberikan
lebih, yang
lain akan dirasa kurang.
Begitu juga dalam kasus kamu yang
mencari, dan
yang lain akan menanti.

Jangan pernah takut untuk jatuh cinta.
Mungkin akan begitu menyakitkan, dan
mungkin
akan menyebabkan kamu sakit dan
menderita.
Tapi jika kamu tidak mengikuti kata
hati, pada
akhirnya kamu akan menangis jauh lebih
pedih...
karena saat itu menyadari bahwa kamu
tidak
pernah memberi....

Cinta itu sebuah jalan.
Cinta bukan sekedar perasaan, tapi
sebuah
komitmen.
Perasaan bisa datang dan pergi begitu
saja.
Cinta tak harus berakhir bahagia,
karena cinta
TiDAK HARUS berakhir

Cinta sejati mendengar apa yang tidak
dikatakan
dan mengerti apa yang tidak dijelaskan,
sebab cinta tidak datang dari bibir
dan lidah atau
pikiran...
melainkan dari HATI.

Ketika kamu mencintai, jangan
mengharapkan
apapun sebagai imbalan,
karena jika kamu demikian,
kamu bukan mencintai, melainkan
investasi.

Jika kamu mencintai, kamu harus siap
untuk
menerima penderitaan.
Karena jika kamu mengharap kebahagiaan,
kamu bukan mencintai....melainkan
memanfaatkan.

Lebih baik kehilangan harga diri dan
egomu
bersama seseorang yang kamu cintai
dari pada kehilangan seseorang yang
kamu cintai
karena egomu yang tak berguna itu..

Bagaimana aku akan berkata
"SELAMAT TINGGAL "....
kepada seseorang yang tidak pernah aku
miliki ??

Kenapa tetes air mata jatuh demi
seseorang yang
tidak pernah menjadi kepunyaanku ??

Kenapa aku merindukan seseorang yang
tidak
pernah bersamaku dan kubertanya,

kenapa aku mencintai seseorang yang
cintanya
tidak pernah untukku ??

Sangat sulit bagi dua orang yang
mencintai satu
sama lain ketika mereka tinggal dalam
dua dunia
yang berbeda..........
Tapi ketika kedua dunia ini melebur
dan menjadi
satu,
itulah yang disebut
KEAJAIBAN !!

Jangan mencintai seseorang seperti
bunga karena
bunga mati kala musim berganti,
Cintailah mereka seperti angin, sebab
angin
bertiup selamanya........

Cinta mungkin akan meninggalkan hatimu
bagaikan kepingan2 kaca,
tapi tancapkan dalam pikiranmu, bahwa
ada
seseorang
yang akan bersedia untuk menambal
lukamu
dengan
mengumpulkan kembali pecahan- pecahan
kaca itu
sehingga kamu akan menjadi utuh
kembali......

"Dream can change, but Love is forever"

LoVe Or LiKe ???
Don't EVER leave the one you love for
the one you
like
because the one you like will leave
you for the one
they love...
tonight your true love will realize
how much they
love you

.:.:.:.

If you REALLY LIKE (or LOVE) SOMEONE
right
now
AND MISS THEM
and can't get them out of your head
then re-post this within 1 minute with
the title
LOVE VS LIKE and whoever you are
missing


KOK BERAT SIH

Jam 7 malam.
Sudah cukup lama aku berkutat dengan pekerjaanku. Aku bersiap-siap untuk meninggalkan kantor. Dengan enggan kuangkat tas berat itu ke pundakku. Beban yang menekan di pundakku terasa begitu mengganggu, tapi aku memang harus membawa tas ini.

Di perjalanan pulang, aku mengendarai sepeda motorku masih dengan konsentrasi pada tas yang membebani pundakku.


Seorang anak kecil menyeberang dengan sepedanya tanpa melihat ke kiri dan ke kanan. Huh, aku memaki dalam hati. Kecil kecil sudah menyebalkan, gimana gedenya nanti.


Aku melanjutkan perjalanan masih dengan sejuta omelan dalam hati. Ingin rasanya cepat sampai di rumah, supaya aku bisa beristirahat.


Suara klakson yang berbunyi nyaring mengagetkan aku dari lamunanku.

Kulirik spion dan kulihat seorang anak muda dengan mobil mewahnya membunyikan klakson dengan nada tak sabar.


Huh, kenapa sih dengan orang-orang ini? Emangnya dia nggak lihat kalau jalanan emang lagi macet? Emangnya dikira enak membawa tas seberat ini?


Ketika sampai di rumah, ternyata perasaan nyaman yang kuimpikan tak dapat kutemui.
Suasana hiruk pikuk keluargaku terasa seperti dentuman-dentuman keras di kepalaku.

Lagi-lagi aku memaki dalam hati.
Aku capek. Aku ingin istirahat. Berat sekali yang harus aku angkat.
Kenapa sih nggak ada yang mau mengerti?

Malam hari. Akhirnya aku memperoleh ketenangan. Aku bisa tidur dan beristirahat. Tapi tas besar dan berat ini terasa mengganggu sekali. Aku tak bisa tidur. Tapi aku tak bisa melepaskannya. Aku kesal.

"Bapa, kenapa sih berat sekali? Sungguh-sungguh sangat mengganggu... "
Aku mengeluh sambil meneteskan air mata.

"Mengapa engkau tidak meletakkan tas itu anakKu?"

"Tapi aku tak bisa Bapa"

"Kenapa?"

"Lihatlah, semua tas ini berlabelkan tanggung jawab. Semua harus aku bawa setiap saat, aku tak bisa meletakkannya.
Tas hitam yang paling besar ini, lihat tulisan di depannya, PEKERJAAN.
Semua tanggung jawab pekerjaanku ada di dalamnya. Lalu yang coklat ini, KELUARGA. Aku juga tak bisa meletakkannya. Semuanya adalah bebanku. Dan yang biru ini, PELAYANAN. Engkau tentu tak ingin aku meletakkannya bukan?"

Aku berusaha menjelaskan.

Bapaku yang baik hanya tersenyum, lalu mendekatiku.
"Kemarilah, Aku ingin melihatnya."
Ia melihat tas hitam besar yang kuletakkan di pundakku.
"AnakKu, engkau dapat meletakkan tas ini. Ini memang tanggung jawab pekerjaanmu. Dan engkau memang harus menanggungnya. Namun saat engkau melangkah keluar dari kantor, engkau dapat meletakkan tas ini di samping meja kerjamu. Tenanglah, tidak akan ada yang
mengambilnya. Lagi pula semua isinya adalah tanggung jawabmu bukan?
Percayalah, tak akan ada yang tertarik untuk mengambil tas ini, sehingga keesokan hari, saat engkau kembali ke kantor, pasti tas ini akan tetap ada di
sana, dimana engkau meletakkannya. Dan engkau dapat mengambilnya kembali dan melanjutkan tanggung jawabmu".

Ia tersenyum menunggu jawabanku.
"Benar Bapa, tapi aku tak dapat meletakkannya. Ia melekat terus di pundakku".

Ia menatapku dengan penuh kasih, lalu perlahan mengambil tas itu dari pundakku.

"Kemarilah anakKu. Di saat engkau tak dapat meletakkannya, Aku dapat membantumu untuk meletakkannya. Dan esok, Aku pun dapat membantumu untuk mengenakannya kembali."

Ia meletakkan tas hitam itu di dekat tempat tidurku.
Rasanya pundakku lega sekali.
Tas paling berat yang selalu menekanku telah diambil.
Aku menggerak-gerakkan pundakku sambil tersenyum.
"Engkau benar Bapa, rasanya enak sekali. Ringan. Besok aku akan lebih siap untuk melanjutkan pekerjaanku. Esok, pasti tas itu tidak akan terasa terlalu berat lagi".

Aku menatap wajah Bapaku yang penuh kasih.
Sungguh indah senyum dan sinar mataNya.
Ia menatap tas coklat di pundakku.
"Lalu itu? engkau tidak ingin meletakkannya juga?"

"Bapa, aku tidak bisa. Ini adalah tanggung jawab KELUARGA. Kemanapun aku
pergi aku harus membawanya."

"AnakKu, Aku sungguh bahagia karena engkau memperhatikan setiap tanggung jawab yang kuberikan padamu mengenai keluargamu. Tapi engkau pun tak boleh lupa, bahwa keluargamupun adalah milikKu. Dan aku memelihara setiap kepunyaanKu. Engkau memang harus membawa tas itu bersamamu, tapi sesekali letakkanlah, agar engkau dapat bermain dengan bebas dengan keponakanmu, bercanda dengan kakakmu, atau sekedar berbincang dan bercerita dengan orang tuamu. Rasanya belakangan ini Aku jarang melihatmu melakukannya".

Aku tertunduk malu.
Ia benar. Aku membawa tas ini kemana-mana, dan kulaksanakan setiap tanggung jawab untuk keluargaku, tapi sepertinya ternyata tas ini menjadi jauh lebih berharga dari pada kehadiran keluargaku sendiri.

Sekali lagi Bapa mengambil tas dari pundakku.
"Mari anakKu, letakkanlah. Di saat engkau perlu, letakkanlah. Karena engkau dapat yakin, walaupun engkau meletakkannya dan meluangkan waktu dengan keluargamu, Akulah yang akan tetap menjagamu dan keluargamu".

Dan pundakku menjadi jauh lebih lega.
Kini hanya tinggal satu tas biru yang masih memberati pundakku.
"Bapa, tas yang satu ini sungguh-sungguh tak dapat kuletakkan. Setiap saat setiap waktu aku harus membawanya. Karena setiap detik kehidupanku adalah pelayananku untukMu. Engkau tentu tak ingin aku meletakkannya bukan?"

"Hmm... benar juga".
Aku terkejut mendengar jawabanNya. Sepertinya agak tidak sesuai harapanku. Ia telah membantuku meletakkan kedua tasku sebelumnya, dan sepertinya aku sungguh-sungguh berharap agar tas ini juga dapat kulepaskan.

"Mari coba kulihat tas itu"
Ia melihat dan meraba tas biru yang masih melekat di pundakku.

"Anakku, sepertinya ada yang salah dengan tasmu ini. Kemarilah, coba lepaskan".

Ia mengambil tas biruku.
"Anakku, engkau benar. Aku ingin agar engkau selalu melayaniKu dalam setiap detik kehidupanmu. Dan percayalah, itu sungguh-sungguh menyenangkan hatiKu. Tapi sepertinya tasmu ini bahannya terlalu berat, sehingga menekan pundakmu terlalu berat."

Kemudian Ia memberikan aku satu tas biru yang lain.
"Ini, pakailah tas ini sebagai gantinya. Ini merupakan tas dengan bahan KASIH. Jika engkau meletakkan semua pelayananmu di dalamnya, niscaya engkau tidak akan terbebani dengan tasmu ini".

Aku menerima tas baruku dari tanganNya, lalu memindahkan semua isi tas lamaku ke dalam tas berbahan KASIH itu.


Aku mencoba mengangkatnya. Ternyata Bapaku benar. Tas itu kini terasa ringan dan sungguh nyaman di pundakku.

Aku memandangNya penuh kasih.
"Terima kasih Bapa. Aku sungguh mengasihiMu. Terima kasih untuk pelajaranMu hari ini".

Pagi ini aku memulai hari dengan senyuman.
Istirahatku sudah cukup. Dan aku siap untuk menghadapi tantangan hari ini.
Di perjalanan, aku masih tetap bertemu orang-orang yang menyebalkan, namun tidak lagi memaki dalam hati, melainkan aku berdoa untuk mereka.
Mungkin mereka juga masih selalu membawa tas mereka kemana-mana atau mereka juga mengenakan tas dengan bahan yang salah. Banyak sekali. Aku melihat ada yang membawa dua tas besar, tiga bahkan empat. Tulisannya pun bermacam-macam, ada PEKERJAAN, KELUARGA, PELAYANAN, KULIAH, SEKOLAH, BISNIS, dan masih banyak lagi.

Memang tanggung jawab adalah sesuatu yang harus kita pikul dan harus kita selesaikan.
Tapi kita pun harus tetap belajar untuk menempatkan di saat mana kita harus mengangkat dan di saat mana kita harus meletakkan.

Dan aku terus belajar ...

Seseorang yang bijaksana pernah bertanya padaku:
"Mana yang lebih berat, mengangkat sebuah gelas dengan satu tangan selama 1 jam penuh, atau mengangkat gelas tersebut selama 10 menit lalu meletakkannya sejenak dan mengangkatnya kembali selama 10 menit dan demikian seterusnya sampai 1 jam?"

"Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu". Matius 11:28

"Sebab itu, janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari". Matius 6:34


Buat semua sahabat dan kakak, adikku yang tengah memikul tasnya masing-masing...

*) Terinspirasi dari buku Serahkanlah Segalanya Kepada Dia karya Max Lucado

KISAH SEORANG IBU BERMATA SATU.
>
> Ibuku hanya memiliki satu mata.
>
> Aku membencinya... dia sungguh membuatku menjadi sangat memalukan.
> Dia bekerja memasak buat para murid dan guru di sekolah... untuk menopang
> keluarga. Ini terjadi pada suatu ketika aku duduk di sekolah dasar dan
> ibuku datang. Aku sungguh dipermalukan. Bagaimana bisa ia tega melakukan
> ini padaku? Aku membuang muka dan berlari meninggalkannya saat bertemu
dengannya.
>
> Keesokan harinya di sekolah...
> "Ibumu bermata satu?!?!".... ejek seorang teman.
>
> Akupun berharap ibuku segera lenyap dari muka bumi ini.
>
> Jadi kemudian aku katakan pada ibuku, "Ma... kenapa engkau hanya memiliki
> satu mata?! Kalau engkau hanya ingin aku menjadi bahan ejekan orang-orang,
> kenapa engkau tidak segera mati saja?!!!"
> Ibuku diam tak bereaksi.
>
> Aku merasa tidak enak, namun disaat yang sama, aku rasa aku harus
> mengatakan apa yang ingin aku katakan selama ini... Mungkin ini karena
> ibuku tidak pernah menghukumku, akan tetapi aku tidak berfikir kalau aku
> telah sangat melukai perasaannya.
>
> Malam itu...
> Aku terjaga dan bangun menuju ke dapur untuk mengambil segelas air minum.
> Ibuku sedang menangis disana terisak-isak, mungkin karna khawatir akan
> membangunkanku. Sesaat kutatap ia, dan kemudian pergi meninggalkannya.
> Setelah aku mengatakan perasaanku sebelumnya padanya, aku merasa tidak
enak
> dan tertekan. Walau demikian, aku benci ibuku yang menangis dengan satu
> mata. Jadi aku bertekad untuk menjadi dewasa dan menjadi orang sukses.
> Kemudian aku tekun belajar.
>
> Aku tinggalkan ibuku dan melanjutkan studiku ke Singapore.
> Kemudian aku menikah.Aku membeli rumahku dengan jerih payahku.
> Kemudian, akupun mendapatkan anak-anak, juga.
>
> Sekarang aku tinggal dengan bahagia sebagai seorang yang sukses.
> Aku menyukai tempat tinggal ini karena tempat ini dapat membantuku
melupakan ibuku.
> Kebahagiaan ini bertambah besar dan besar, ketika...
> Apa?! Siapa ini?!
> Ini adalah ibuku... Masih dengan mata satunya.
> Aku merasa seolah-olah langit runtuh menimpaku.
> Bahkan anak-anakku lari ketakutan melihat ibuku yang bermata satu.
> Aku bertanya padanya, "Siapa kamu?!. Aku tidak mengenalmu!!!" kukatakan
> seolah-olah itu benar. Aku memakinya, "Berani sekali kamu datang ke
rumahku
> dan menakut-nakuti anak-anakku! KELUAR DARI SINI!! SEKARANG JUGA!!!".
> Ibuku hanya menjawab, "Oh, maafkan aku. Aku mungkin salah alamat."
Kemudian
> ia berlalu dan hilang dari pandanganku.
> Oh syukurlah... Dia tidak mengenaliku. Aku agak lega. Kukatakan pada
diriku
> kalau aku tidak akan khawatir, atau akan memikirkannya lagi. Dan akupun
> menjadi merasa lebih lega...
>
> Suatu hari, sebuah undangan menghadiri reuni sekolah dikirim ke alamat
> rumahku di Singapore. Jadi, aku berbohong pada istriku bahwa aku akan
> melakukan perjalanan dinas. Setelah menghadiri reuni sekolah, aku
> mengunjungi sebuah gubuk tua, dulu merupakan rumahku... Hanya sekedar
ingin tahu saja.
> Di sana, aku mendapati ibuku terjatuh di tanah yang dingin. Tapi aku tidak
> melihatnya ia mengeluarkan air mata. Ia memegang selembar surat
ditangannya... Sebuah surat untukku.
>
> "Anakku...
> Aku rasa hidupku cukup sudah kini...
> Dan... aku tidak akan pergi ke Singapore lagi...
> Tapi apakah ini terlalu berlebihan bila aku mengharapkan engkau yang
datang
> mengunjungiku sekali-kali? Aku sungguh sangat merindukanmu...
> Dan aku sangat gembira ketika kudengar bahwa engkau datang pada reuni
> sekolah. Tapi aku memutuskan untuk tidak pergi ke sekolahan. Demi
engkau...
> Dan aku sangat menyesal karna aku hanya memiliki satu mata, dan aku telah
> sangat memalukan dirimu.
> Kau tahu, ketika engkau masih kecil, engkau mengalami sebuah kecelakaan,
> dan kehilangan salah satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tidak bisa
> tinggal diam melihat engkau akan tumbuh besar dengan hanya memiliki satu
> mata. Jadi kuberikan salah satu mataku untukmu... Aku sangat bangga akan
> dirimu yang telah dapat melihat sebuah dunia yang baru untukku, di
> tempatku, dengan mata tersebut. Aku tidak pernah merasa marah dengan apa
> yang kau pernah kau lakukan... Beberapa kali engkau memarahiku... Aku
> berkata pada diriku, 'Ini karena ia mencintaiku...'
>
> Anakku... anakku..."
>
> Pesan (di atas) ini sungguh memiliki sebuah arti yang sangat mendalam dan
> dikirim untuk mengingatkan banyak orang bahwa kebaikan yang telah mereka
> nikmati selama ini adalah berkat seseorang, entah secara langsung maupun
> tidak langsung. Renungkan sesaat dan lihatlah dirimu!. Berterima kasihlah
> akan apa yang kamu miliki saat ini dibandingkan dengan jutaan orang yang
> tidak memiliki kehidupan seperti yang engkau peroleh saat ini !.
> Bawalah (selalu) ibumu dalam doa dimana saja engkau berada !.

Jangan Pernah Berhenti Berbuat Baik

> Bryan hampir saja tidak melihat wanita tua yang berdiri dipinggir

jalan

> itu,tetapi dalam cahaya berkabut ia dapat melihat bahwa wanita tua itu

> membutuhkan pertolongan. Lalu ia menghentikan mobil Pontiacnya di

> depan mobil Mecedes wanita tua itu, lalu ia keluar dan menghampirinya.

> Walaupun dengan wajah tersenyum wanita itu tetap merasa khawatir,

> karena setelah menunggu beberapa jam tidak ada seorang pun yang

> menolongnya.

> Apakah lelaki itu bermaksud menyakitinya?

> Lelaki tersebut penampilanya tidak terlalu baik, ia kelihatan begitu

> memprihatinkan. Wanita itu dapat merasakan kalau dirinya begitu

> ketakutan, berdiri sendirian dalam cuaca yang begitu dingin,

> sepertinya lelaki tersebut tau apa yang ia pikirkan. Lelaki itu

> berkata " saya kemari untuk membantu anda bu, kenapa anda tidak

> menunggu didalam mobil bukankah disana lebih hangat? oh ya nama saya

> Bryan.

> Bryan masuk kedalam kolong mobil wanita itu untuk memperbaiki yang

> rusak. Akhirnya ia selesai, tetapi dia kelihatan begitu kotor dan

> lelah, wanita itu membuka kaca jendela mobilnya dan berbicara

> kepadanya, ia berkata bahwa ia dari st louis dan kebetulan lewat jalan

> ini. Dia merasa tidak cukup kalau hanya mengucapkan terima kasih atas

> bantuan yang telah diberikan.

> Wanita berkata berapa yang harus ia bayar, berapapun jumlahnya yang ia

> minta tidak menjadi masalah, karena ia membayangkan apa yang akan

> terjadi jika lelaki tersebut tidak menolongnya. Bryan hanya tersenyum.

> Bryan tidak mengatakan berapa jumlah yang harus dibayar, karena

> baginya menolong orang bukanlah suatu pekerjaan. Ia yakin apabila

> menolong seseorang yang membutuhkan pertolongan tanpa suatu imbalan

> suatu hari nanti Tuhan pasti akan membalas amal perbuatanya.

> Ia berkata kepada wanita itu " Bila Anda benar-benar ingin membalas

> jasa saya, maka apabila suatu saat nanti apabila Anda melihat

> seseorang yang membutuhkan pertolongan maka tolonglah orang tersebut

> "...dan ingatlah pada saya". Bryan menunggu sampai wanita itu

> menstater mobilnya dan menghilang dari pandangan.

> Setelah berjalan beberapa mil wanita itu melihat kafe kecil, lalu ia

> mampir kesana untuk makan dan beristirahat sebentar. Pelayan datang

> dan memberikan handuk bersih untuk mengeringkan rambutnya yang basah.

> Wanita

> itu memperhatikan sang pelayan yang sedang hamil, dan masih begitu

> muda.

> Lalu ia teringat kepada Bryan Setelah wanita itu selesai makan dan,

> sang pelayan sedang mengambil kembalian untuknya, wanita itu pergi

> keluar secara diam-diam.

> Setelah kepergiannya sang pelayan kembali, pelayan itu bingung kemana

> wanita itu pergi, lalu ia menemukan secarik kertas diatas meja dan

> uang $1000. Ia begitu terharu setelah membaca apa yang ditulis oleh

> wanita

> itu: "Kamu tidak berhutang apapun pada saya karena seseorang telah

> menolong saya, oleh karena itulah saya menolong kamu, maka inilah yang

> harus kamu lakukan: "Jangan pernah berhenti untuk memberikan cinta dan

> kasih sayang".

> Malam ketika ia pulang dan pergi tidur, ia berfikir mengenai uang dan

> apa yang di tulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita itu bisa tahu

> kalau ia dan suaminya sangat membutuhkan uang untuk menanti kelahiran

> bayinya?

>

> Ia tahu bagaimana suaminya sangat risau mengenai hal ini, lalu ia

> memeluk suaminya yang terbaring disebelahnya dan memberikan ciuman

> yang lembut sambil berbisik :"semuanya akan baik-baik saja, I Love You

> Bryan"

>

> Moral dari kisah di atas : "Segala sesuatu yang berputar akan selalu

> berputar", karena itu janganlah berhenti berbuat kebaikan dalam

> hidupmu.

>

Ini adalah sebuah gambaran kehidupan,

> yang aku rasakan selama ini, dimana,

> telah lama saya merasakan, bahwa hati

> manusia, kini telah berubah, menjadi

> dingin dan beku. tapi sebuah peristiwa, yang terjadi beberapa tahun

> yang lalu, telah membuktikan pada diriku, bahwa pandanganku selama ini

> akan hal itu, adalah suatu kesalahan yang besar.

> Seperti hari - hari biasanya, aku sibuk seharian ditoko kecilku,

> melayani para pelanggan disekitar daerah tokoku. dan saat jam

> didinding menunjukkan pukul 01. 30 pagi, aku memutuskan untuk menutup

> toko. namun, tak lama setelah menutup toko, dan bersiap - siap untuk

> kembali ke rumahku, terdengar bunyi dering bell, dari depan toko. aku

> cuma berguman dalam hatiku saat itu "

> huh...dasar kelelawar malam, bukannya

> dari tadi sebelumnya datang belanja ".

> dan dengan wajah yang sedikit ketus,

> aku menuju pintu depan. namun, saat aku membuka pintu, mataku melihat

> seorang gadis kecil berusia kira - kira 16 tahun. gadis itu sangat

> terlihat kumal dengan pakaian yang sudah usang. saat aku menatap

> matanya, dia kemudian mengangkat kedua tangannya, dengan menggenggam

> sebuah kertas, yang bertuliskan " aku benar - benar minta maaf jika

> aku telah mengganggu anda, dan akupun tak dapat berbicara. namun,

> bolehkah aku memohon bantuanmu? ".

> Aku kemudian mengangguk, tanda mengerti maksudnya. aku kemudian

> mengeluarkan beberapa uang receh dari kantong celanaku. namun, apa

> yang terjadi?

> gadis kecil itu menolaknya dengan

> halus. dia kemudian menunjuk tumpukan

> kardus bekas didalam tokoku. ternyata, dia membutuhkan kardus - kardus

> bekas itu. aku kemudian mengangguk lagi, tanda mengerti maksudnya.

> kemudian aku mengumpulkan kardus - kardus bekas itu, untuk diberikan

> kepadanya. dan dari sejak itu, setiap jam 01.30 pagi, dia selalu

> datang ketokoku, untuk meminta hal yang sama. dan setelah beberapa

> minggu, tanpa aku sadari, aku telah menjalin hubungan persahabatan

> dengannya.

> Namun, aku masih menyisakan pertanyaan didalam hatiku, mengenai

> kedatangan dia setiap jam 01. 30 pagi. dan dengan perasaan ingin tahu,

> saat dia datang ke tokoku seperti biasanya, aku menuliskan

> pertanyaanku disebuah kertas, dan menunjukkan padanya " mengapa engkau

> mengumpulkan kardus - kardus bekas itu?

> apakah kedua orang tuamu tidak

> khawatir, kalau engkau berjalan

> sendirian, dalam jam - jam ini? ".

> kemudian dia meminta secarik kertas dan sebatang pensil padaku, untuk

> menuliskan jawaban dari pertanyaanku kepadanya. dan, ternyata, jawaban

> yang dia berikan, sepertinya telah membuka tabir masa lalunya, yang

> amat sangat menyakitkan. dengan kucuran air mata di pipinya, dia

> menuliskan jawaban pertanyaanku tersebut.

> Aku merasa tersentak dan tersentuh hati kecilku. dalam hatiku, aku

> berguman "

> Ya Tuhan, betapa besarnya derita, yang dia harus tanggung dalam

> usianya saat ini. sebelum ibunya melahirkan adiknya, ayahnya telah

> lebih dulu " menemui "

> Engkau. dan beberapa lama setelah

> adiknya tak menyusui lagi, sang ibu pun menelantarkan mereka dan pergi

> entah kemana. gadis cilik yang bisu ini, harus berjuang sendirian,

> untuk membiayai hidupnya dan adiknya, yang masih sangat kecil. tak ada

> pekerjaan lain, yang bisa dia lakukan lagi, selain hanya mengumpulkan

> kardus - kardus bekas, untuk dijual, demi untuk membeli sesuap nasi,

> untuk dirinya, dan adiknya, yang masih sangat kecil tersebut ".

> Aku merasakan kepedihan yang amat

> sangat dari dalam hatiku. seolah -

> olah, aku ingin menangis dan menjerit

> sekeras - kerasnya, saat dimana, aku

> merasa hidupku, sudah termasuk sangat

> beruntung sekali selama ini, namun,

> ternyata aku tak pernah mengucap

> syukur. dan saat ini, Engkau

> menunjukkan padaku, kisah perjalanan

> hidup, seorang gadis kecil, yang amat

> sangat menyakitkan. dimana, dalam

> usianya yang masih sangat muda saat

> ini, dia harus berjuang sendirian, demi meneruskan hidupnya dan adik

> kecilnya, dan tak mengenal kata menyerah, pada kerasnya tuntutan hidup

> ini.

> Sejak saat itu, setiap kali aku

> mengumpulkan kardus - kardus bekas,

> untuk diberikan kepadanya, aku

> memasukkan beberapa bungkus roti dan

> beberapa botol air mineral, dengan

> harapan, paling tidak, aku bisa sedikit membantu, untuk meringankan

> beban hidupnya. selama ini, aku memang tidak pernah mengucap syukur

> pada Tuhan, namun, tapi paling tidak, biarlah aku masih bisa membantu

> gadis cilik ini, untuk meringankan beban hidupnya. dan entah kenapa,

> hatiku menggerakkan badanku juga, untuk mencarikan bantuan, dari pihak

> - pihak lain, yang bersedia mengulurkan tangannya, untuk membantu sang

> gadis cilik ini, yang telah membuka mataku, akan pahitnya kehidupan

> ini.

> Dan selang beberapa minggu, sang gadis cilik tersebut, tidak pernah

> datang lagi ke tokoku seperti biasanya. dalam hatiku, aku merasakan

> kekhawatiran yang amat sangat. penuh pertanyaan didalam batinku,

> memikirkan kemungkinan apakah yang terjadi atas dirinya. apakah ada

> malapetaka, apakah dia sedang sakit, dan masih banyak lagi, pertanyaan

> - pertanyaan lainnya. dalam hatiku pun, aku masih sempat berguman " Oh

> Tuhan, kenapa aku sebelumnya tidak ingat, untuk menanyakan alamatnya?

> sehingga aku tak tahu dimana ia tinggal, dan akupun tak bisa

> mengunjunginya.

> Dan ketika suatu hari, aku hendak

> menutup tokoku, aku menemukan sebuah

> amplop, yang bertuliskan namaku.

> kemudian aku membuka amplop itu, dan

> dalam secarik kertas, tertulis " Kak,

> terima kasih banyak ya, atas bantuan

> kakak selama ini. aku dan adikku saat

> ini, telah menjadi anak angkat, dari

> sebuah keluarga yang baik dan saat ini, kehidupan kami telah berubah.

> aku benar - benar minta maaf, jika selama ini, aku telah banyak

> menyusahkan kakak. aku tidak akan pernah bisa membalas kebaikan kakak,

> namun dalam doaku selama ini, nama kakak telah aku sampaikan kepada

> Bapa disurga, dan biarlah Bapa sendiri, yang akan membalas kebaikan

> kakak selama ini. dan sekali lagi, terima kasih banyak ya kakak ".

> Sepucuk surat yang amat singkat, namun, tanpa aku sadari, air mataku

> telah mengalir dengan deras di pipiku. dan sekarang aku telah sadar,

> bahwa ternyata, cinta itu, masih memiliki tempat dibumi. kemudian aku

> menyimpan surat itu baik - baik

HADIAH CINTA SEORANG IBU...

"Bisa saya melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru melahirkan

penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia

membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu

itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang

ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah

telinga! Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh

menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya

saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari anak lelaki itu bergegas

pulang ke Rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang

menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan

tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, "Seorang anak laki-laki

besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh." Anak lelaki itu tumbuh

dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman

sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis.

Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan,"Bukankah

nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?" Namun dalam hati

ibu merasa kasihan dengannya. Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu

dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. "Saya

percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus

ada

seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Kemudian,

orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan

telinga dan mendonorkannya pada mereka. Beberapa bulan sudah berlalu.

Dan

tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, "Nak, seseorang yang

tak

ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus

segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua

ini sangatlah rahasia." kata sang ayah. Operasi berjalan dengan sukses.

Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah

menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari

sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai

seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa

yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat

sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya."

Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati

ornag yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya

melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk

mengetahui semua rahasia ini." Tahun berganti tahun. Kedua orangtua

lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang

menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu

berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan

perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur

kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah... bahwa sang ibu tidak

memiliki telinga. "Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa

memanjangkan rambutnya," bisik sang ayah. "Dan tak seorang pun

menyadari

bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?" Kecantikan yang

sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta

karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada

apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa

yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah

dikerjakan

namun tidak diketahui.